Daily Inspiration: Saksi Kematian
Saksi Kematian
Baiklah teman-teman, saya akan berbagi sedikit cerita yang jika Allah kehendaki akan menjadi pelajaran bagi kita semua.
Saat itu, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri sosok teman yang selama ini aku kenal ceria dan ramah lingkungan meninggal dunia. Aku mendapat kabar bahwa saat itu beliau kecelakaan, aku berniat untuk menjenguknya di Rumah Sakit. Ketika aku sudah bersiap-siap, akupun melihat berita bahwa beliau dikabarkan meninggal dunia. Apa yang kurasakan? Tidak bisa dijelaskan karena terlalu banyak rasa yang bercampur menjadi satu. Aku sedih kehilangan salah satu teman yang shalihah. Ada ikrar yang belum ku tepati.
Saat itu juga, aku merasa semua terjadi begitu cepat. Sejenak aku berpikir, beliau masih muda, 16 tahun. Mengapa secepat itu Allah tarik nyawanya? Sedikit rasa takut menghantuiku.
Ya benar, dari kisah ini bisa disimpulkan bahwa kematian bisa datang kapan saja, kematian tidak memilih rentang usia, tidak peduli siapa kita, tidak menunggu kita bersiap siaga, tidak bisa diterka dan tidak pula bisa dimanipulasi. Lalu, sudahkah kita jadikan kematian sebagai pemberi nasihat bagi kita sebagaimana Rasulallah mengingatkan, "Waa kafaa bil mauti wa idzho."
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana jenazah beliau, aku menangis saat itu. Aku benar-benar tidak percaya bahwa hal ini benar-benar nyata. Aku lemah, aku hampir down saat itu. Namun aku bangkit, untuk memberikan kenangan terakhir bersama beliau. Aku ikut menyolatkan dan menghantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir, saat itu juga aku kembali menangis. Ya Allah, disana gelap, tak ada cahaya sedikitpun. Pikiranku sudah semakin kacau dengan membayangkan hal ini. Saat itu juga aku benar-benar takut, oleh dosa yang masih saja terus menerus kulakukan sedangkan kematian tidak tahu kapan akan tiba.
Tidak cukupkah kematian sebagai pemberi nasihat bagi kita? Tidak cukupkah kematian sebagai ladang bagi kita untuk terus berbenah? Atau hanya dianggap hal yang pada akhirnya akan dialami oleh setiap insan yang bernyawa? Tanpa mengambil hikmah dan pelajaran di dalamnya?
Mari teman-teman kita berinteraksi dengan diri sendiri, apakah kematian sudah menjadi penasehat kita? Kalau memang iya, lantas apa yang menjadikan diri kita terperdaya dengan kehidupan dunia, padahal kita tahu akan meninggalkannya. Perlu kita ingat bahwa derajat, harta, dan kekayaan dunia yang kita miliki tidak akan bisa kita membawa untuk mendekat dan menemui Allah Swt. Hanya amal saleh yang akan kita bawa nanti, yang dapat membawa kita menemui Allah.
"Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung dan kehidupan dunia hanyalah kehidupan yang memperdaya-kan”. (Ali-Imran: 185).
Benar teman, kita semua adalah milik Allah, dan akan kembali kepada Allah. Tidak ada yang perlu disombongkan. Dunia hanyalah kesenangan yang belaka dan seketika akan hancur atas kuasa-Nya.
Semoga dengan kisah ini, kita semua bisa terus berbenah untuk menjadi lebih baik. So, keep spirit, I hope Allah always bless us.
Masya Allah
BalasHapus